July 1, 2016

Selingkuh

Sebenarnya saya masih punya keinginan untuk mereview beberapa produk sih. Tapi mood-nya belum dapat, padahal produknya sudah hampir habis, hahaha *gatau diri. Saya gini banget nih, kalau kerjaannya nggak di-deadline, suka semaunya sendiri, mood-nya nggak ngumpul-ngumpul. Kayaknya saya udah mabok deadline gara-gara dulu kelamaan ngurusin reporter sama editornya Farma Pos deh #lari lari ketjil

Btw, ini tulisan lama ya, dulu nulisnya juga di Note, saya hanya edit-edit sesuai gaya menulis saya sekarang *yang ternyata berubah sekali. Daripada teronggok cuma saya doang yang baca, saya share saja lah di sini. Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan di blognya Meta Hanindita sejak lama sekali. Saya lupa tahun berapa, tapi coba search saja dengan keyword “Selingkuh” pasti ada karena memang itu judulnya, hohoho *ditoyor.
Nggak ada maksud apa-apa ya, sodara-sodara. Bacanya nggak usah sambil emosi, nggak usah baper, dan kalian-kalian nggak usah penuh spekulasi. Ini bukan merujuk kepada siapa-siapa. Woles, heee, woles! *jadi saya yang nggak nyantai :p
Gambar dari sini
Setelah membaca postingan Meta tersebut, jujur saja saya agak tertampar loh bacanya. Takut secara tidak sadar pernah mendekat ke arah sana dan kemudian melukai pasangan ~.~ *sungkem sama suami
Oleh karena itu, sejak berstatus istri orang, saya mulai berhati-hati berinteraksi dengan lawan jenis. Entah itu ketika bertemu langsung, sosial media, messenger, atau apapun jenis interaksinya. Suami saya bukan yang cemburuan sih, tapi setidaknya menurut saya, cara saya bersikap juga menunjukkan cara saya menghormati dia sebagai suami bukan? Selain itu, saya sendiri juga pasti tidak suka lah ya melihat suami terlalu akrab dengan teman lawan jenisnya. Oleh karena itu, karena saya tak suka diperlakukan demikian, sudah pasti saya tak mau memperlakukan suami saya demikian kan?

Saya beruntung karena sudah berteman cukup lama dengan suami sebelum akhirnya memutuskan untuk bersama seperti sekarang. Kami sudah menjadi sahabat dekat sejak lama dan kami merasa bahwa kami merasa nyaman untuk saling mengajak bicara. ini penting sih, menurut saya, karena jangan sampai ada pihak lain yang merasa lebih nyaman diajak bicara selain pasangan dan Tuhan.

Gambar dari sini
Apalagi kalau pihak lainnya ternyata lawan jenis, kemudian jadi rasanya lebih nyaman daripada bicara dengan pasangan sendiri, kemudian ada rasa, kemudian.. kemudian.. ya.. begitu lah, sebagaimana ceritanya Si Mawar di tulisan Meta itu :(( Bagaimana jadinya kalau kita lebih nyaman bicara asuransi kesehatan anak pada pihak ketiga kan?

Lalu bagaimana ketika kita sedang bermasalah dengan pasangan sementara sedang ingin meluapkan segala perasaan? *cielah bahasamu, nak! Situ lupa sama Yang Maha Kuasa? Tapi jangan cuma ingat waktu ada masalah ya, waktu lagi senang juga.. *nasihat diri sendiri
Kesimpulannya sih memang jaga hati, apalagi kita yang sudah terikat pernikahan. Yang tau sebuah hubungan sudah kebablasan atau tidak sebenarnya ya hati kecil kita sendiri kok. Meskipun dari luar kelihatan kita yang innocent atau tak bersalah, tapi hati kecil kita nggak bakalan tenang kalau sudah mengkhianati orang. So, luruskan kembali niat sahabatan sama lawan jenisnya ya.. :D

No comments:

Post a Comment