Hari Senin kemarin saya akhirnya mengirim kembali motor yang saya angkut
dari rumah. Akhirnya si motor plat M kembali ke kampung halamannya, hahaha. Kalau
bukan karena harus ganti plat nomor sih, agaknya saya juga malas ya ngirim
motor lagi. Ngomong-ngomong tentang motor plat M, mungkin motor saya jadi
satu-satunya motor berplat M di Cikarang. Ya iyalah, orang waras mana yang mau
kirim motor jauh-jauh dari Bangkalan ke Cikarang, hahaha. Ta’ iyeh?
![]() |
Gambar dari sini |
Tapi meskipun begitu, jangan kira tak ada populasi orang Madura di sini
ya. Penjual soto langganan saya dua-duanya berbahasa Madura. Hanya satu yang
saya tanya-tanya sih, si Ibu berasal dari Kwanyar –Halo, Tirto! :p- sementara
yang satu lagi entah darimana. Saya suka malas ngajak ngobrol penjual yang
bukan perempuan, hahaha. Menurut info rekan-rekan kerja saya di sini, ternyata
populasi orang Madura memang cukup banyak. Hmm… I am not alone in this planet,
ha! :p
Ketika saya mulai kuliah praktik di sini, saya dan rekan ketika itu –ehem!-
memperkenalkan diri sebagai mahasiswa program profesi dari universitas negeri
di Surabaya, sehingga banyak karyawan yang menduga kami berdua berasal dari
Surabaya. Mereka baru menyadari saya tidak berasal dari Surabaya ketika melihat
tempat lahir saya di CV, dan mereka kaget begitu tau saya berasal dari Madura,
hidup 18 tahun di Madura, dengan orang tua yang Madura asli!
Melihat respon mereka, jadi ganti saya yang heran. Segitu anehnya kah
kalau saya berasal dari Madura? Mereka bilang karena cara bicara saya yang
tidak berlogat khas (like what? -___-), wajah saya yang tidak seperti orang
Madura (emang orang Madura kayak gimana sih?), bisa membedakan warna hijau dan
biru (ya emangnya buta warna?) dan lain sebagainya dan lain sebagainya
lalalalala~~~
Sebenarnya ini bukan kali pertama sih. Dulu teman-teman kuliah heran
mendengar saya bicara lewat telpon dengan Mama saya dalam bahasa Madura dengan
fasih, padahal sehari-hari mereka tak pernah mendengar saya berlogat Madura. Suami
saya bahkan sampai sekarang masih mencari-cari sisi Madura saya sebelah mana. Kalau
sampai suami saya pun tak bisa, menyerah sajalah, kalian-kalian anak muda,
wkwkwkwk *humor receh *ya maap
Saya mengerti sih yang mereka herankan karena mungkin kebanyakan orang
Madura yang mereka temui punya sisi khas yang entah baik atau buruk dan
kemudian melekat sebagai stereotype orang Madura menurut mereka. Saya tidak
membantah kalau ada yang mengatakan kalau orang Madura berwatak keras, bicara
blak-blakan, dan nggak bisa bedain warna biru-hijau (meski dalam hati pengen ngegampar,
hahaha). Tapi memangnya suku lain tidak begitu? Memangnya yang tinggal di Eropa
sono semuanya ngomongnya andhep asor?
–just call me if you wanna know the meaning of those words- Ya tergantung
manusianya toh. Hari ini masih mojok-mojokin SARA, duh ke laut aja, Cong,
Bing..
Oiya kalau masalah bicara keras atau blak-blakan, itu watak ya, semua
orang juga punya, tinggal wataknya itu dominan atau nggak. Kalau masalah nggak
bisa bedain hijau-biru, itu sih salah paham aja. Orang Madura bukannya nggak
bisa bedain, tapi memang karena di bahasa daerah Madura, penyebutannya tidak
seperti di bahasa Indonesia. Ya sama aja kayak orang Jawa menyebut warna merah
dengan Abang, lalu apa mereka dibilang nggak bisa bedain warna merah dengan
kakak laki-laki? –duuh.. nulisnya jadi ikutan ngawur- -entah ini perbandingan
yang sama atau nggak ya-
No comments:
Post a Comment